Kapan Hukum Poligami Menjadi Wajib?

Kapan Hukum Poligami Menjadi Wajib? – Hukum poligami sebenarnya ada 4 macam, diantaranya sunnah, mubah, haram dan wajib. Semua itu sudah dibahas pada artikel sebelumnya oleh Kang Masrukhan. Hukum poligami bisa berubah berdasarkan situasi dan kondisi rumah tangga serta kondisi masing-masing pasangan. Jika ditanya pada setiap wanita, maukah mereka dipoligami? Pastinya jawaban keras mereka adalah TIDAK! Namun bagaimana jika dalam kondisi rumah tangga nya mengharuskan suami untuk berpoligami? Situasi dan kondisi seperti apa yang mengharuskan suami poligami, dan kapan hukum poligami ini menjadi wajib? Mari simak ulasan Kang Masrukhan di bawah ini!

 

Sebab-sebab Hukum Poligami menjadi WAJIB

 

Al Qur’an dan hadist membuat suatu tata aturan begitu luwes, tidak terikat pada satu hukum saja melainkan disesuaikan dengan keadaan / zaman serta didukung oleh berbagai sunnah Rasulullah SAW. Hadist dan kalam Allah memiliki area yang lebih luas dan mengandung berbagai hikmah yang tentunya membawa manfaat bagi umat manusia. Termasuk Poligami, dimana hukum ini dan sunnah ini mendapatkan tentangan keras dari kaum wanita khususnya. Mereka merasa dirugikan dengan adanya paham poligami yang sesungguhnya diperbolehkan dalam ISLAM. Lalu bagaimana jika hukum ini bukan boleh lagi melainkan menjadi wajib?

 

Wanita tentu harus bisa menerima segala ketentuan yang ALLAH buat, harus bisa ikhlas dan menjadikannya sebagai suatu hikmah. Hikmah seperti apa? Ya tentunya hikmah untuk beribadah, lebih berbakti pada suami, membangun suatu ukhuwah yang memuliakan ISLAM di dalamnya, menjalin keluarga yang indah dan harmonis meski anda harus rela berbagi cinta dengan wanita lain. Faktor seperti apa yang harus mengikhlaskan wanita mengikhlaskan suami poligami?

 

Sebab-sebab mengharuskan Poligami, Hukum Poligami Adalah Wajib

 

Faktor yang mengharuskan poligami adalah sebagai berikut :

  1. Istri Mandul

Istri pertama tidak dapat memberikan keturunan pada suami menjadi faktor utama hukum poligami menjadi wajib. Dalam tujuan pernikahan salah satunya adalah melestarikan keturunan, bagaimana jika ini tidak dapat dipenuhi oleh istri? Tentunya jalan poligami menjadi solusinya. Ada dua jalan keluar sebenarnya, jika istri mandul maka suami harus menikah lagi dengan istri kedua atau bercerai. Jika masih ada rasa sayang dan cinta mendalam pada istri pertama, jalan perceraian bukanlah jalan yang baik. Namun sang istri harus rela menerima fakta bahwa suaminya harus melakukan poligami. Itulah mengapa hukum poligami berubah menjadi wajib.

 

  1. Istri sakit berkepanjangan

Jika istri pertama mengalami musibah berupa sakit menahun dan berkepanjangan sehingga tak mampu memberikan pelayanan ranjang pada suami, maka ia harus rela menerima hadirnya wanita kedua dalam rumah tangganya. Apa jadinya jika suami tidak pernah mendapatkan kasih sayang istri di atas ranjang, maka untuk menghindari suami berzina ada baiknya jika suami melakukan poligami yang sah di mata agama maupun negara. Tidak ada fitnah dunia dan menjadikan tugas istri pertama lebih ringan untuk merawat suami.

 

Ada sebuah dalil dalam Al Qur’an yang mengatakan :

Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat ( yang membawa kerusakan ).” (Surah al-Isra’ : 32)

 

  1. Istri tidak nurut dan sulit dibimbing

Jika anda memiliki seorang istri yang susah dibimbing, tidak mau nurut pada suami dan tidak mau dididik untuk menjadi lebih baik maka menihkahlah anda untuk kedua kalinya. Sikap sering menimbulkan kemarahan suami dan tidak menyenangkan di hadapan suami adalah ladang kemaksiatan yang merusak hubungan dalam rumah tangga. Maka, bagi pria sah hukumnya untuk berpoligami demi mengejar pahala ibadah dalam pernikahan dengan menikahi wanita lain yang lebih baik.

 

Bahkan hal ini didukung dengan firman ALLAH yang berbunyi :

Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan-perempuan dengan jalan paksaan, dan janganlah kamu menyakiti mereka ( dengan menahan dan menyusahkan mereka ) kerana kamu hendak mengambil balik sebahagian dari apa yang kamu telah berikan kepadanya, kecuali ( apabila ) mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaulah kamu dengan mereka ( isteri-isteri kamu itu ) dengan cara yang baik. Kemudian jika kamu ( merasai ) benci kepada mereka ( disebabkan tingkah-lakunya, janganlah kamu terburu-buru menceraikannya ), kerana boleh jadi kamu bencikan sesuatu, sedang Allah hendak menjadikan pada apa yang kamu benci itu kebaikan yang banyak ( untuk kamu ).” (Surah an-Nisa’ : 19)

 

  1. Suami sering bermusafir / keluar kota

Jika anda seorang pria yang memiliki pekerjaan di luar pulau, di luar negeri atau di luar kota maka anda bisa melakukan poligami untuk menghindari terjadinya zina. Setiap kali bepergian yang tidak bisa membawa serta keluarga terlebih istri maka suami boleh menikahi wanita lain yang lebih dekat agar bisa menghindari fitnah dan mampu menyalurkan hawa nafsu. Poligami dinilai menjadi jalan yang lebih baik daripada harus melampiaskan nafsu seksual dengan jalan yang dilaknat ALLAH, misalnya dengan menyewa wanita bayaran.

 

Dan hendaklah kamu bertolong-tolongan untuk membuat kebajikan dan bertaqwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa ( maksiat ) dan pencerobohan. Dan bertaqwalah kepada Allah, kerana sesungguhnya Allah Maha Berat Azab seksaNya ( bagi sesiapa yang melanggar perintahNya ).” (Surah al-Maidah : 2.)